JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah masuk ke atmosfer DKI Jakarta. Fenomena ini pertama kali terpantau pada Jumat (16/10/2026).
Sekretaris Utama BMKG Guswanto menyatakan asap tersebut terutama berasal dari karhutla di Kalimantan dan Sumatra. Selain Jakarta, sebaran asap juga terlihat di wilayah Banten dan Jawa Barat. Pergerakan asap di Pulau Jawa mengarah ke tenggara hingga barat daya mengikuti arah angin.
Baca juga: Cuaca Hari Ini: Jabodetabek Cerah Berawan, Sumsel dan Jatim Masih Diselimuti Udara Kabur
Belum tentu sampai permukaan
Meski demikian, BMKG menegaskan asap yang terdeteksi masih berada di lapisan atmosfer. Karena itu, belum dapat dipastikan apakah konsentrasi polutan di permukaan Jakarta ikut meningkat. Pemantauan kualitas udara di permukaan masih diperlukan untuk memastikan dampaknya.
Sebagai perbandingan, pada 14 Oktober BMKG masih menyatakan Jakarta dan Jabodetabek belum masuk area sebaran asap.
Ribuan titik panas
Hingga 14 Oktober 2026, tercatat 1.297 titik panas di Indonesia, terbanyak di Sumatra dengan 505 titik dan Kalimantan 346 titik. Kabut asap sebelumnya sudah melumpuhkan aktivitas di sejumlah daerah, mulai dari Sumatera Utara yang memberlakukan belajar dari rumah hingga Danau Toba yang kehilangan wisatawan.
Baca juga: Kabut Asap Kian Pekat, Pemerintah Bantah Tolak Bantuan Malaysia Padamkan Karhutla
BMKG mengimbau warga Jabodetabek memantau kualitas udara, terutama kadar PM2.5. Jika kualitas udara masuk kategori tidak sehat, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker, khususnya bagi anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.