NEW YORK – Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Jumat (23/10/2026). Minyak Brent ditutup naik 3,55 dolar AS atau 3,14 persen menjadi 116,72 dolar AS per barel, level tertinggi sejak 29 April 2026.
Minyak acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), juga naik 3,80 dolar AS atau 3,8 persen ke 103,27 dolar AS per barel. Sepanjang pekan ini, harga Brent tercatat naik sekitar 6 persen.
Pemicu kenaikan
Lonjakan harga dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, termasuk serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap Arab Saudi, yang menyasar infrastruktur energi. Investor juga mengkhawatirkan kemungkinan Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran dalam beberapa pekan ke depan.
Di sisi lain, gangguan produksi di Libya turut menambah tekanan terhadap pasokan minyak global.
Pekan ini, Korps Garda Revolusi Islam Iran juga mengklaim dua kapal tanker terbakar setelah terkena ranjau di Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak yang vital bagi pasokan dunia.
Baca juga: Parlemen Iran Setujui Mehrdad Akhlaghi Jadi Menhan Baru, Ahli Rudal Balistik yang Kena Sanksi AS
Tekanan bagi Indonesia
Kenaikan harga minyak ini menambah beban bagi negara importir minyak seperti Indonesia. Sebelumnya, pemerintah memastikan harga BBM subsidi tidak naik hingga akhir 2026, meski harga minyak mentah Indonesia (ICP) sudah jauh di atas asumsi APBN.