Induk dan Bayi Orangutan Terluka Diselamatkan dari Lokasi Karhutla di Kotawaringin Timur

Induk dan Bayi Orangutan Terluka Diselamatkan dari Lokasi Karhutla di Kotawaringin Timur Induk dan Bayi Orangutan Terluka Diselamatkan dari Lokasi Karhutla di Kotawaringin Timur

SAMPIT – Direktorat Satwa Baharkam Polri bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Orangutan Foundation International (OFI) menyelamatkan seekor induk orangutan dan bayinya dari lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, pada Sabtu (24/10/2026).

Tangan terluka hingga ke tulang

Direktur Satwa Baharkam Polri Brigjen Torry Kristianto mengatakan induk orangutan itu ditemukan terjerat jerat babi dengan luka parah di kedua tangannya. Meski terluka, sang induk masih melindungi bayinya yang diperkirakan berusia sekitar sembilan bulan.

Baca juga: Brio Tabrak Truk di Bangka Tengah, Dosen Unmuh Babel Bersama Suami dan Dua Anak Tewas

“Induknya kena jerat babi, tangan kanan dan kirinya luka sampai ke tulang. Kemudian dia masih mempertahankan bayinya, jadi kita bawa sekalian,” kata Torry.

Karena kondisinya kritis, sang induk diberi nama Gadis, singkatan dari Gabungan Medis, sedangkan bayinya dinamai Garis atau Gabungan Rescue. Dokter hewan dari BKSDA dan OFI langsung diterjunkan untuk memberikan pertolongan. Keduanya dibawa ke Pangkalan Bun. Karena fasilitas medis di sana terbatas, perawatan lanjutan dilakukan di pusat rehabilitasi orangutan.

Beruang madu dan kukang ikut diselamatkan

Selain orangutan, tim juga menyelamatkan seekor anak beruang madu yang kemudian diserahkan ke BKSDA, serta sejumlah kukang dari area terbakar. Proses evakuasi sempat terhambat kabut asap dan akses transportasi yang terbatas.

Baca juga: Tiga Ruko di Kawasan Kuliner Suryakencana Bogor Terbakar, Diduga Akibat Kabel Listrik Tua

“Semalam apinya juga masih membakar. Kasihan, mereka itu tidak bisa bersuara,” ujar Torry.

Torry juga mengungkapkan kekhawatiran atas kebakaran di kawasan konservasi, termasuk Taman Nasional Tanjung Puting. Hilangnya habitat dan sumber pakan membuat aktivitas satwa berubah drastis. Di salah satu titik pemberian pakan, kata dia, kini hanya terlihat tujuh orangutan, padahal biasanya bisa mencapai 20-an ekor.

Leave a Comment