Airlangga Pertanyakan Pengumuman MSCI: Baru Bertemu di Bangkok, Tak Ada Pembahasan

Ilustrasi pengumuman msci Ilustrasi pengumuman msci

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mempertanyakan waktu pengumuman MSCI yang membuka konsultasi untuk menurunkan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Pengumuman itu memicu IHSG ambruk 11,57 persen dan rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS pada Jumat (16/10/2026).

Airlangga menyebut ada “tanda tanya besar” karena MSCI baru saja bertemu sejumlah pejabat Indonesia di Bangkok, Thailand, pada 13 Oktober, namun tidak menyinggung rencana tersebut. Pemerintah sebelumnya juga mengikuti pertemuan MSCI dengan Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan.

Baca juga: Rupiah Jebol Rp18.000, Jadi Mata Uang Terburuk di Asia Usai Ancaman MSCI

Meski demikian, ia menegaskan pemerintah tidak ingin terburu-buru berprasangka buruk terhadap pihak tertentu. “Tapi kita tidak boleh suuzan,” ujarnya.

Sorotan pada aturan pelaksanaan

Menurut Airlangga, perhatian utama MSCI adalah implementasi regulasi, termasuk langkah-langkah konkret Bursa Efek Indonesia (BEI). MSCI juga menilai periode reformasi pasar modal Indonesia lebih panjang dibanding negara lain.

Ia menekankan reformasi pasar modal harus dijalankan dan kemajuannya harus terlihat oleh investor domestik maupun asing. Pemerintah akan berkoordinasi dengan BEI untuk menyusun langkah perbaikan beserta tenggat waktu yang jelas.

Baca juga: Badai MSCI, IHSG Ambruk 11,57 Persen ke 5.185 dan Dua Kali Kena Trading Halt

Airlangga menjelaskan, status Standalone Market berada di antara kategori Frontier Market dan Emerging Market. MSCI membuka masa konsultasi hingga 30 April 2027, dan keputusan final dijadwalkan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027. Pemerintah akan terus memantau perkembangan dan dampaknya terhadap pasar keuangan domestik.

Leave a Comment