Badai MSCI, IHSG Ambruk 11,57 Persen ke 5.185 dan Dua Kali Kena Trading Halt

Ilustrasi layar bursa saham merah Ilustrasi layar bursa saham merah

JAKARTA – Pasar saham Indonesia mengalami hari kelam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ambruk 678,67 poin atau 11,57 persen ke level 5.185,10 pada perdagangan Jumat (16/10/2026), dari posisi 5.863,78 sehari sebelumnya.

Tekanan jual sudah terasa sejak pembukaan. IHSG langsung anjlok 8,01 persen ke 5.393,92 begitu pasar dibuka, sehingga Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit. Namun, aksi jual berlanjut setelah perdagangan dibuka kembali, dan perdagangan sempat kembali terhenti sebelum penutupan.

Baca juga: Airlangga Pertanyakan Pengumuman MSCI: Baru Bertemu di Bangkok, Tak Ada Pembahasan

Hanya 11 saham yang menguat, sementara 812 saham melemah dan 140 stagnan. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp26,4 triliun. Sektor infrastruktur menjadi yang terdalam (-14,3 persen), disusul material dasar (-13,3 persen) dan kesehatan (-13,1 persen). Saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, dan AMMN menjadi pemberat utama.

Rencana MSCI turunkan status Indonesia

Pemicu utama kejatuhan ini adalah pengumuman MSCI pada Kamis (15/10) yang membuka konsultasi untuk mereklasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

MSCI menyoroti kekhawatiran soal investabilitas, transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta belum adanya penegakan aturan yang berarti. Masukan pelaku pasar diterima hingga 30 April 2027, dan keputusan akhir akan diumumkan paling lambat akhir Juni 2027.

Baca juga: Rupiah Jebol Rp18.000, Jadi Mata Uang Terburuk di Asia Usai Ancaman MSCI

Selama masa konsultasi, MSCI membekukan sejumlah perubahan indeks untuk saham Indonesia, termasuk tidak menambah saham baru ke MSCI Indonesia Investable Market Index. Kondisi ini dikhawatirkan mendorong arus keluar dana asing yang dapat ikut menekan rupiah.

Respons BEI dan OJK

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan pihaknya menghormati independensi MSCI dan akan meminta klarifikasi lebih lanjut mengenai dasar penilaian tersebut. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menegaskan OJK memberi perhatian serius terhadap aspek pasar modal yang perlu dibenahi, serta berkomitmen melanjutkan reformasi, memperbaiki transparansi kepemilikan saham, dan memperkuat penegakan hukum.

Kejatuhan hari ini memperpanjang tren buruk IHSG, yang sepanjang tahun ini sudah terkoreksi lebih dari 30 persen.

Leave a Comment