IHSG Ditutup Melonjak 5,65 Persen ke 5.278, Analis: Risiko Pasar Belum Sepenuhnya Reda

Ilustrasi grafik saham hijau Ilustrasi grafik saham hijau

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Selasa (20/10/2026) dengan lonjakan tajam. Indeks ditutup menguat 282,28 poin atau 5,65 persen ke level 5.278,89, setelah sempat dibuka melemah di 4.980.

Indeks LQ45 bahkan melesat 8,58 persen ke level 530,35. Sebanyak 694 saham menguat, 111 melemah, dan 158 stagnan, dengan nilai transaksi mencapai Rp26,47 triliun.

Baca juga: BEI Bakal Keluarkan 80 Saham Berkonsentrasi Kepemilikan Tinggi dari Perhitungan IHSG

Seluruh 11 sektor saham kompak menguat, dipimpin sektor transportasi dan logistik (6,97 persen), disusul barang baku (6,42 persen) dan infrastruktur (5,62 persen).

Penguatan IHSG terjadi saat mayoritas bursa Asia justru melemah. Indeks Kospi Korea Selatan turun 3,73 persen, Nikkei Jepang turun 1,16 persen, dan Hang Seng Hong Kong melemah 1,32 persen.

Rebound teknikal

Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai lonjakan ini terutama didorong technical rebound setelah koreksi tajam, serta aksi beli pada saham-saham berkapitalisasi besar yang harganya sudah turun dalam. Saham perbankan besar menjadi penopang utama karena bobotnya yang besar terhadap indeks.

Baca juga: Rupiah Ikut Rebound, Kembali ke Bawah Rp18.000 per Dolar AS

Pelaku pasar juga mencermati rencana Bursa Efek Indonesia mengeluarkan saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) dari perhitungan IHSG, serta penyesuaian aturan batas auto rejection bawah.

“Namun, ini belum berarti risiko pasar sudah sepenuhnya mereda,” kata Elandry.

Menurut dia, investor global masih berhati-hati terkait transparansi kepemilikan saham, porsi saham beredar bebas (free float), dan kemungkinan perubahan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI. Ia menilai penguatan hari ini lebih tepat dilihat sebagai respons jangka pendek, sementara pemulihan berkelanjutan membutuhkan reformasi yang konsisten dan kepastian kebijakan.

Leave a Comment