IHSG Kembali Anjlok 5 Persen ke 4.923 di Sesi I, Hari Pertama Batas ARB 7 Persen Berlaku

Ilustrasi ihsg turun Ilustrasi ihsg turun

JAKARTA – Tekanan jual di pasar saham Indonesia belum mereda. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali anjlok 261,84 poin atau 5,05 persen ke level 4.923,26 pada penutupan sesi I perdagangan Senin (19/10/2026), melanjutkan kejatuhan 11,57 persen pada Jumat lalu.

IHSG dibuka melemah di kisaran 4.961 dan sepanjang sesi pertama bergerak di rentang 4.907–4.974. Sebanyak 744 saham melemah, hanya 42 saham menguat, dan 13 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp10,03 triliun.

Baca juga: OJK Jatuhkan Denda Rp2,1 Triliun Terkait Manipulasi Saham DSSA dan Penyesatan IPO BREN-CUAN

Indeks LQ45 turun 5,53 persen ke level 480. Saham MDKA, AMMN, dan MBMA menjadi penekan terdalam di jajaran LQ45 dengan penurunan sekitar 7 persen. Seluruh sektor berada di zona merah, dengan sektor barang baku anjlok paling dalam sebesar 6,35 persen, disusul infrastruktur (-5,5 persen) dan energi (-5,48 persen).

Batas ARB dipangkas jadi 7 persen

Hari ini juga menjadi hari pertama berlakunya kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang memangkas batas auto rejection bawah (ARB) saham menjadi 7 persen untuk saham berharga di atas Rp10, dari sebelumnya hingga 15 persen. Batas auto rejection atas tidak berubah.

Kebijakan yang tertuang dalam SK Direksi BEI Nomor Kep-00157/BEI/10-2026 ini berlaku hingga 31 Desember 2026 dan didukung Otoritas Jasa Keuangan. Sekretaris Perusahaan BEI Elsiierra Putri Yosita menyebut langkah ini diambil agar perdagangan tetap berlangsung teratur, wajar, dan efisien, sekaligus memberi waktu bagi investor untuk mengevaluasi informasi.

Baca juga: Usai Ambruk 11,57 Persen, IHSG Diprediksi Masih Tertekan Awal Pekan

Rupiah tertahan di atas Rp18.000

Di pasar valuta asing, rupiah bergerak di kisaran Rp18.026–Rp18.056 per dolar AS sepanjang pagi, masih tertahan di atas level psikologis Rp18.000. Selain sentimen MSCI, rupiah juga tertekan kenaikan harga minyak akibat eskalasi di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina.

Tekanan pasar dipicu rencana MSCI mereklasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, serta sanksi OJK terhadap pihak-pihak terkait sejumlah emiten besar.

Leave a Comment