JAKARTA – Impor mobil dalam kondisi utuh (completely built up/CBU) ke Indonesia turun tajam. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat impor CBU sepanjang Januari–Agustus 2026 hanya 51.321 unit, anjlok 47,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebanyak 98.232 unit.
Penurunan paling drastis dialami merek-merek mobil listrik yang sebelumnya mengandalkan impor. Impor BYD hanya 1.058 unit, merosot 95,4 persen dari 22.964 unit. Sementara impor VinFast turun 80,2 persen menjadi 2.642 unit dari sebelumnya 13.372 unit.
Baca juga: Daftar Harga Motor Sport Oktober 2026: Mulai Rp16 Jutaan hingga Rp1 Miliar Lebih
Insentif impor berakhir
Ketua Gaikindo Jongkie D. Sugiarto menjelaskan, penurunan ini terutama disebabkan berakhirnya fasilitas impor melalui skema investasi BKPM. Merek-merek yang memanfaatkan fasilitas tersebut sudah berhenti mengimpor sejak 31 Desember 2025.
Seiring itu, produksi lokal mulai mengambil alih. VinFast, misalnya, telah mengoperasikan pabrik di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas hingga 50.000 unit per tahun.
Bukan tanda permintaan melemah
Pakar otomotif ITB Yannes Martinus Pasaribu menilai anjloknya impor lebih mencerminkan pergeseran sumber pasokan dari impor ke produksi dalam negeri, bukan melemahnya permintaan. Hal ini sejalan dengan data penjualan wholesales Gaikindo yang justru tumbuh sekitar 21 persen sepanjang Januari–September 2026 menjadi 679.020 unit.
Baca juga: Denza Z9 GT Meluncur Rp2,25 Miliar, Mobil Listrik 1.156 PS yang Bisa Jalan Menyamping
BYD sendiri tetap moncer di pasar. Model BYD Atto 1 bahkan tercatat sebagai mobil terlaris di Indonesia pada September 2026 dengan 4.840 unit.