JAKARTA – Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan. Kementerian Kesehatan mencatat ratusan ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi terdampak, puluhan ribu di antaranya diderita balita. Sumatera Utara bahkan memberlakukan belajar dari rumah mulai hari ini.
Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun. Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga bisa masuk hingga ke dalam paru-paru.
Baca juga: IDAI Ingatkan: Bayi di Bawah 6 Bulan Hanya Boleh ASI atau Susu Formula, Jangan Telur Mentah
Bukan hanya paru-paru
Kemenkes menyebut paparan asap karhutla dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari ISPA, batuk, sesak napas, radang tenggorokan, asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga iritasi mata dan kulit. Untuk mengantisipasinya, Kemenkes telah menyiagakan tenaga kesehatan, termasuk dokter spesialis paru, mata, dan THT, di daerah terdampak.
Fasilitas kesehatan juga diminta memprioritaskan kelompok rentan, yaitu anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta (komorbid).
Langkah perlindungan diri
- Pakai masker yang tepat. Masker N95 atau KN95 lebih efektif menyaring PM2.5 dibanding masker kain.
- Batasi aktivitas luar ruangan, terutama saat kabut pekat di pagi hari.
- Pantau kualitas udara melalui aplikasi atau informasi resmi BMKG dan pemerintah daerah.
- Tutup jendela dan ventilasi saat asap tebal, dan gunakan penyaring udara bila tersedia.
- Lindungi mata. Hindari mengucek mata saat terasa perih; bilas dengan air bersih dan gunakan kacamata saat berada di luar.
- Cukupi cairan tubuh dengan banyak minum air putih.
- Segera periksa ke fasilitas kesehatan bila muncul sesak napas, batuk tak kunjung reda, atau mata merah dan nyeri.