JAKARTA – Ancaman siber terhadap organisasi di Indonesia kian serius. Laporan Relentless Defense Report dari Cisco mengungkap 95 persen organisasi di Indonesia mengalami insiden siber yang berdampak signifikan dan mengganggu operasional bisnis dalam 12 bulan terakhir.
Lebih dari separuh insiden tersebut melibatkan serangan yang diperkuat kecerdasan buatan (AI).
Baca juga: RedMagic 12 Pro+ Meluncur di China: Snapdragon 8 Elite Gen 6, Layar 185Hz dan Kipas Pendingin
“AI secara fundamental telah meningkatkan eskalasi risiko dalam pertahanan siber,” ujar Managing Director Cisco Indonesia Cin Cin Go.
Skor pertahanan 72 dari 100
Laporan tersebut mencatat skor rata-rata pertahanan siber organisasi di Indonesia berada di angka 72 dari 100. Menariknya, 29 persen organisasi Indonesia masuk kategori berkinerja terbaik atau Relentless Defenders, jauh di atas rata-rata global yang hanya 8 persen.
Meski demikian, sejumlah kelemahan masih ditemukan:
Baca juga: DJI Dock 4 Meluncur, Bisa Ganti Baterai Drone Otomatis dalam 25 Detik
- Hanya 63 persen organisasi yang menyatakan tim keamanan, jaringan, dan TI bekerja sebagai satu kesatuan dengan visibilitas dan perangkat yang sama.
- 38 persen organisasi menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengumpulkan dan menghubungkan data dari berbagai sistem ketimbang menangani ancaman.
- 46 persen organisasi mengaku kehilangan informasi penting karena data berada di luar jangkauan mereka.
Kecepatan jadi kunci
Proses persetujuan yang lambat, data yang tersebar, dan koordinasi antartim yang belum optimal menjadi hambatan utama. Cin Cin Go menegaskan, kecepatan pertahanan kini lebih ditentukan oleh kelincahan operasional, bukan semata teknologi.
Cisco merekomendasikan organisasi mengintegrasikan keamanan siber ke dalam operasional bisnis serta mengurangi sekat antartim agar keputusan bisa diambil cepat saat ancaman muncul.