Teleskop Antariksa NASA Swift Jatuh ke Bumi, Terbakar di Langit Sumatera Utara

Ilustrasi Satelit Jatuh Ke Bumi Ilustrasi Satelit Jatuh Ke Bumi (beritamenit.com/AI)

WASHINGTON – Teleskop antariksa milik NASA, Neil Gehrels Swift Observatory, kembali memasuki atmosfer Bumi dan terbakar di atas wilayah Sumatera Utara, Indonesia. Peristiwa itu terjadi pada Rabu (4/11/2026) pukul 07.39 waktu AS atau 12.39 GMT.

Angkatan Luar Angkasa AS (US Space Force) mengonfirmasi masuknya kembali satelit tersebut di atas bagian utara Pulau Sumatera, sekitar 322 kilometer di utara garis khatulistiwa. Menurut NASA, Swift menembus atmosfer dengan kecepatan sekitar 22 kali kecepatan suara.

Baca juga: Binance Dibobol Rp 114 Triliun, Diduga Ulah Peretas Korea Utara

NASA melaporkan tidak ada kerusakan maupun korban luka akibat peristiwa ini. Belum diketahui seberapa dekat titik masuknya satelit dengan Medan, ibu kota sekaligus kota terbesar di Sumatera Utara yang dihuni sekitar 2,5 juta jiwa. Provinsi Sumatera Utara sendiri berpenduduk sekitar 16 juta jiwa.

Pemburu Ledakan Sinar Gamma

Swift diluncurkan pada 2004 dengan misi utama mempelajari ledakan sinar gamma (gamma-ray burst), ledakan energi paling dahsyat yang diketahui di alam semesta. Teleskop senilai sekitar US$500 juta atau setara Rp9,05 triliun itu membawa tiga teleskop yang mengamati pada panjang gelombang berbeda.

Awalnya, Swift hanya dirancang beroperasi selama dua tahun. Namun, teleskop seberat sekitar 1.452 kilogram itu terus bekerja jauh melampaui target. Selama lebih dari dua dekade, Swift mengamati ratusan supernova, lubang hitam yang menghancurkan bintang, semburan sinar-X dari bintang, hingga asteroid dan komet. Hasil pengamatannya berkontribusi pada sekitar 7.000 publikasi ilmiah.

Baca juga: ROG Xbox Ally X20 Edisi 20 Tahun Usung Layar OLED 120Hz, Dibundel Kacamata AR 171 Inci

Upaya Penyelamatan Gagal

Swift tidak memiliki sistem pendorong sendiri, sehingga tidak bisa mempertahankan ketinggian orbitnya. Selama beberapa bulan terakhir, orbit teleskop itu terus tidak stabil hingga akhirnya berhenti beroperasi pada 20 Oktober 2026.

NASA sempat berupaya menyelamatkannya. Pada Juli lalu, NASA bersama perusahaan rintisan asal Arizona, Katalyst, meluncurkan wahana bernama LINK. Wahana itu dirancang untuk mendekati Swift, menempel padanya, lalu mendorongnya ke orbit yang lebih tinggi dan stabil.

Namun, tak lama setelah mencapai luar angkasa, LINK justru berputar tak terkendali. Pada pertengahan Agustus, pengelola misi membatalkan upaya penyelamatan dan NASA membiarkan Swift terus turun hingga jatuh ke Bumi.

Baca juga: Baru Sehari Meluncur, Pengguna iPhone Duo Keluhkan Layar Retak di Bagian Engsel

Sebagian Besar Habis Terbakar

NASA memperkirakan sebagian besar badan Swift habis terbakar akibat gesekan dengan atmosfer, meski sejumlah kecil serpihan mungkin mencapai permukaan. US Space Force sebelumnya memperkirakan risiko bagi wilayah berpenduduk sangat rendah, dengan peluang ada orang yang terluka sekitar 1 banding 2.100.

Insinyur kedirgantaraan dari perusahaan pemasok komponen industri asal Inggris, Accu Components, Dean Sladen, sebelum peristiwa itu menyebut hanya serpihan kecil yang hangus yang diperkirakan mencapai permukaan.

“Tidak ada yang masih bisa dikenali sebagai teleskop,” kata Sladen.

Ia menambahkan, satelit berukuran serupa rutin jatuh kembali ke Bumi. Dalam hampir 70 tahun sejarah penerbangan antariksa, belum ada catatan korban jiwa akibat puing satelit.

“Belum pernah ada orang yang meninggal akibat puing-puing satelit yang jatuh,” ujarnya.

Meski begitu, Sladen mengingatkan risiko jangka panjang bisa meningkat seiring makin banyaknya satelit di orbit.

“Itulah sebabnya merancang satelit agar dapat kembali ke Bumi dengan aman semakin penting,” katanya.

(RDY/BUD)

Leave a Comment