Usai Ambruk 11,57 Persen, IHSG Diprediksi Masih Tertekan Awal Pekan

Ilustrasi saham turun Ilustrasi saham turun

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan awal pekan, Senin (19/10/2026), setelah ambruk 11,57 persen ke level 5.185 pada Jumat lalu.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta menilai indikator Stochastic dan RSI masih menunjukkan momentum negatif, meski volume perdagangan meningkat. Ia memperkirakan pergerakan IHSG akan volatil dengan kecenderungan melemah (bearish bias), dengan proyeksi pembukaan di kisaran 4.785–4.989.

Baca juga: Airlangga Pertanyakan Pengumuman MSCI: Baru Bertemu di Bangkok, Tak Ada Pembahasan

Sementara itu, MNC Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi menguji area 5.021–5.120 dalam skenario terburuk, dengan peluang rebound ke kisaran 5.397–5.514. Phintraco Sekuritas menyebut level 4.700–4.800 sebagai area support berikutnya jika tekanan jual berlanjut.

Bayang-bayang MSCI

Tekanan utama masih datang dari rencana MSCI mereklasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Rencana yang masih dalam tahap konsultasi hingga 30 April 2027 ini dikhawatirkan memicu aksi jual lanjutan dari investor asing dan institusi.

Rupiah yang sudah menembus Rp18.000 per dolar AS turut membebani sentimen. Dari sisi global, pasar masih mencermati data inflasi AS dan arah kebijakan suku bunga The Fed.

Baca juga: Rupiah Jebol Rp18.000, Jadi Mata Uang Terburuk di Asia Usai Ancaman MSCI

Pekan ini, pelaku pasar juga menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia serta data pertumbuhan kredit yang dijadwalkan pada Rabu (21/10).

Proyeksi analis bukan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

Leave a Comment