JAKARTA – Bursa kripto terbesar dunia, Binance, menjadi korban peretasan dengan nilai kerugian sekitar US$ 6,3 miliar atau setara Rp 114,42 triliun (kurs Rp 18.162). Insiden ini disebut-sebut sebagai pencurian kripto terbesar sepanjang sejarah.
Hasil penelusuran Binance mengarah pada dugaan keterlibatan peretas asal Korea Utara. Meski begitu, belum ada individu yang ditetapkan sebagai tersangka.
Baca juga: ROG Xbox Ally X20 Edisi 20 Tahun Usung Layar OLED 120Hz, Dibundel Kacamata AR 171 Inci
Berawal dari Laptop Insinyur
CEO Binance Richard Teng melalui akun X menjelaskan peretasan kemungkinan bermula dari laptop seorang insinyur perangkat lunak yang telah disusupi. Dari situ, pelaku mendapatkan akses ke sistem yang memproses penarikan dana dan mengajukan transaksi penarikan tanpa izin. Teng menegaskan serangan tersebut bukan peristiwa “sekali klik”, melainkan proses yang kompleks.
Menurut Binance, tidak ditemukan bukti kebocoran kunci privat. Penyelidikan sempat terhambat oleh perangkat lunak yang dirancang untuk menghapus jejak serangan, dan perusahaan kemudian menemukan celah keamanan tambahan.
Penarikan Dana Dihentikan Sementara
Binance menghentikan sementara layanan deposit dan penarikan untuk pemeriksaan keamanan serta membantu mitra intelijen blockchain melacak dana yang dicuri. Sekitar US$ 3 miliar atau Rp 54,48 triliun dilaporkan telah dibekukan oleh gabungan sejumlah perusahaan, sementara sisanya masih dilacak. Penarikan dana diperkirakan kembali dibuka pada Minggu (1/11) pagi.
Baca juga: Baru Sehari Meluncur, Pengguna iPhone Duo Keluhkan Layar Retak di Bagian Engsel
Binance menyatakan akan menanggung seluruh kerugian menggunakan dana perusahaan dan cadangan aset darurat, serta meyakini dana pengguna aman.
Reaksi Industri
Sejumlah petinggi industri kripto menilai Binance memiliki sumber daya yang cukup untuk menyerap kerugian. Coinbase menyatakan telah menyesuaikan sistem penyimpanan kunci kripto offline sebagai langkah antisipasi, sementara Kraken menyebut terus memantau insiden keamanan di industri.
“Agar kripto dapat mencapai potensi maksimalnya, masalah keamanan harus segera ditangani,” kata Kepala Divisi Kripto Franklin Templeton, Chris Perkins.
(RDY/BUD)