TEHERAN – Ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden Donald Trump mengklaim AS mampu menghancurkan fasilitas yang diduga bagian dari program nuklir Iran dalam waktu 10 menit. Iran merespons dengan peringatan keras.
Trump menyampaikan hal itu kepada wartawan di resor Mar-a-Lago, Florida, seperti dilaporkan AFP dan Anadolu Agency. Ia menyebut masih ada satu atau dua lokasi yang perlu “ditangani”, termasuk Mount Pickaxe yang diduga sebagai kompleks nuklir bawah tanah. Iran membantah adanya aktivitas nuklir di lokasi tersebut.
Baca juga: Saudi Klaim Cegat Drone Houthi di Langit Makkah, Houthi: Kebohongan Besar
Saat ditanya apakah serangan baru akan segera dilakukan, Trump enggan menjawab. “Saya tidak bisa memberi tahu Anda,” ujarnya. Terkait perundingan yang dimediasi Qatar, Trump menyebut pembicaraan berjalan baik, meski menilai Iran kurang dapat diandalkan. “Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” katanya.
Respons Iran
Juru bicara militer Iran Mohammad Akraminia memperingatkan bahwa perang berikutnya bisa berlangsung lebih lama dari pertempuran sebelumnya, dan Presiden AS tidak akan bisa menentukan waktu maupun syarat berakhirnya, seperti disampaikan kepada televisi pemerintah Iran.
Peringatan serupa sebelumnya disampaikan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, yang menyatakan jika musuh kembali menyerang, angkatan bersenjata dan rakyat Iran yang akan menentukan kapan dan bagaimana serangan itu berakhir. Juru bicara Garda Revolusi Iran (IRGC) Hossein Mohebbi menyebut konflik dengan AS tidak memiliki batas geografis.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berharap pihak lawan bertindak rasional dan memilih jalur diplomasi, seraya menegaskan Teheran siap baik untuk bertahan maupun berdiplomasi.
Perang Memasuki Bulan Kedelapan
AS dan Iran mulai saling serang pada 28 Februari 2026, menyusul serangan AS dan Israel ke Iran. Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke aset militer AS di Timur Tengah, dengan keterlibatan kelompok sekutunya seperti Hizbullah dan Houthi. Para mediator, termasuk Qatar dan Pakistan, menyebut perundingan kini menemui jalan buntu.
(RDY/BUD)