YAHUKIMO – Kontak tembak antara prajurit TNI dan kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) pecah di kawasan Kali Braza, Distrik Kurima, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Insiden yang terjadi pada Selasa (3/11/2026) itu bermula dari patroli rutin aparat di wilayah tersebut.
Patroli dilakukan oleh personel Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI-PNG Mobile Yonif 3 Marinir di bawah kendali Komando Operasi (Koops) TNI Habema. Berdasarkan informasi yang dihimpun sebelumnya, sasaran patroli adalah kelompok OPM yang menamakan diri Kodap XVI/Yahukimo pimpinan Elkius Kobak.
Baca juga: Truk Molen Diduga Rem Blong Tabrak Kerumunan di Halte Bekasi, 6 Orang Tewas
Bermula dari Pemeriksaan Bangunan Kayu
Saat menyisir lokasi, prajurit memeriksa sebuah bangunan kayu yang diduga kerap dijadikan tempat singgah kelompok bersenjata tersebut. Di sana, petugas mendapati dua orang yang kemudian bergerak menjauh ketika aparat mendekat.
Prajurit lalu memberikan peringatan. Namun, situasi justru memanas dan berubah menjadi baku tembak singkat. Menurut keterangan TNI, tembakan pertama datang dari arah kelompok bersenjata.
“Situasi berkembang menjadi kontak tembak singkat akibat adanya tembakan dari arah kelompok bersenjata,” kata Panglima Koops TNI Habema, Brigjen TNI Riyanto, dalam keterangannya, Jumat (6/11/2026).
Senjata Rakitan hingga Dokumen Disita
Setelah situasi kembali terkendali, prajurit mengamankan lokasi dan menemukan sejumlah barang yang ditinggalkan kelompok tersebut. Barang-barang yang disita antara lain:
Baca juga: Banjir Lahar Semeru Terjang Lumajang, Tiga Kecamatan Terdampak
- satu pucuk senjata api rakitan kaliber 5,56 milimeter beserta amunisinya;
- satu pistol airsoft gun;
- teropong bidik (teleskop senjata);
- senjata tajam;
- busur beserta anak panah;
- alat komunikasi;
- sejumlah dokumen.
Dalam peristiwa tersebut, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. TNI belum merinci apakah ada anggota kelompok bersenjata yang ditangkap maupun jumlah anggota kelompok yang berada di lokasi saat kejadian.
Bukan Diukur dari Jumlah Korban
Brigjen Riyanto menilai para prajurit telah bertindak profesional dan terukur selama menjalankan tugas. Ia mengapresiasi keberhasilan pasukan menyita senjata tanpa menimbulkan korban jiwa.
“Keberhasilan operasi tidak selalu harus diukur dari jatuhnya korban,” ujarnya.
Menurut Riyanto, tolok ukur utama operasi pengamanan di Papua adalah berkurangnya ancaman terhadap keamanan serta terlindunginya masyarakat sipil dari aksi kekerasan bersenjata.
Baca juga: Gempa M 6,4 Guncang Kepulauan Tanimbar Maluku, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
Ajakan Kembali ke Kampung
Dalam kesempatan itu, Riyanto juga menyerukan agar anggota kelompok bersenjata yang masih bertahan di hutan dan pegunungan menghentikan aksi kekerasan dan kembali ke tengah masyarakat.
“Jalan damai selalu terbuka. Mari kembali membangun kampung, menjaga kehidupan keluarga,” katanya.
Koops TNI Habema menegaskan akan terus menjaga keamanan di wilayah Yahukimo. Selain melalui langkah pengamanan yang profesional, TNI juga mengedepankan pendekatan teritorial dan kemanusiaan untuk menciptakan rasa aman bagi warga di Papua Pegunungan.
(RAN/BUD)