JAKARTA – Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp18.145 per dolar AS per 2 November 2026, dari Rp17.830 pada akhir September 2026. Bank Indonesia (BI) menyebut tekanan tersebut terutama dipicu faktor eksternal.
Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan hal itu dalam konferensi pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Baca juga: IHSG Ambruk 3,78 Persen ke 4.904, Asing Lepas Saham BBRI dan TLKM
“Pelemahan dipengaruhi eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah,” kata Destry.
Selain konflik Timur Tengah, pelemahan rupiah juga dipengaruhi pengetatan moneter Amerika Serikat dan sentimen investor global terhadap aset negara berkembang.
Cadangan Devisa Masih Kuat
Meski rupiah tertekan, Destry menyebut cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tercatat sebesar US$146,3 miliar. Jumlah itu setara pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Baca juga: Ekspor Batu Bara dan Sawit Wajib Lewat Danantara Mulai 2027, Pemerintah Evaluasi Masa Transisi
Pada Oktober 2026, BI menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen, sementara BI Rate tetap di level 5,75 persen.
(RDY/BUD)